
PONOROGO – Di kaki Monumen Reog Ponorogo yang menjulang setinggi 126 meter di Kecamatan Sampung, berdiri sebuah angkringan sederhana yang kini menjadi magnet baru bagi masyarakat. Bernama Angkringan Nyah-Nyoh, usaha ini lahir dari tangan seorang wartawan Garuda TV, Sumarno, yang menyalurkan semangat wirausaha di sela profesinya.
Perjalanan Nyah-Nyoh bukanlah kisah instan. Pada tahun pertama, gerobak kecil pemberian dari bupati Ponorogo non aktif Sugiri Sancoko hanya mampu meraih omzet sekitar Rp300 ribu per hari, dengan pelanggan terbatas pada para pekerja proyek pembangunan monumen. “Tahun pertama benar-benar sulit. Tempatnya masih sepi, tapi saya tetap konsisten datang setiap hari, memperbaiki rasa dan variasi menu,” kenang Sumarno sambil menggoreng tempe khasnya yang kini jadi primadona.
Kunci kesuksesan angkringan ini terletak pada tempe goreng spesial berukuran besar, renyah di luar namun lembut di dalam. Menu unik lain seperti rica bekicot juga menjadi favorit pengunjung, menghadirkan cita rasa khas yang sulit dilupakan.
Menurutnya, Nama “Nyah-Nyoh” sendiri lahir dari Bupati Ponorogo non aktif, Sugiri Sancoko, yang merasa suasana angkringan ini begitu akrab dengan pembeli layaknya keluarga.
“Awalnya di kasih nama angkringan (Macan Putih, namun saat dilokasi langsung diganti Angkringan Nyah-Nyoh,” tuturnya.
Lebih lanjut wartawan Garuda TV yang masih aktif terjun di lapangan ini juga mengatakan, awalnya angkringan ini berada di area atas monumen yang saat ini berada diatas wahana pasar malam. Namun, karena ada pengerjaan proyek paving, ia memindahkan gerobaknya ke pojok timur bawah yang lebih strategis, dengan panorama Monumen Reog dan lanskap alam yang indah.
” Keputusan ini terbukti tepat, menjadikan Nyah-Nyoh sebagai tempat favorit warga lokal maupun wisatawan,” katanya.
Kini, Nyah-Nyoh bukan sekadar tempat ngopi. Namun, Ibu-ibu peserta senam sehat rutin memesan makanan di sini, sementara anak pelajar mulai tingkat PAUD dan TK sering menjadikannya lokasi lomba mewarnai di berada di depan usahanya.
Bahkan, Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menyempatkan mampir, membantu langsung dalam proses pembuatan tempe goreng khas dan memborongnya untuk dibagikan. “Usaha kecil seperti ini bisa tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujarnya penuh apresiasi.
Dengan omzet yang kini mencapai jutaan rupiah per hari, Sumarno yang terpilih menjadi Ketua Humas Paguyuban pedagang monumen Reog berharap Angkringan Nyah-Nyoh dan pedagang yang tergabung dalam paguyuban bisa terus berkembang sebagai daya tarik kuliner di kawasan Monumen Reog Ponorogo, sekaligus membuka peluang kerja bagi warga sekitar.
Angkringan Nyah-Nyoh pun berdiri bukan hanya sebagai tempat makan, melainkan simbol ketekunan, harapan, dan kehangatan yang mendayu-dayu di bawah megah Monumen Reog Ponorogo. (Lin)
